Meracau salah akan Semesta
Maafkan aku semesta.
Sejak dulu yang aku lakukan hanya proses panjang untuk membahagiakan diriku.
Sejak dulu aku hanya berjalan dan mengoreksi kala saja diriku tengah tak baik di pandang orang sekitarku.
Sejak dulu dan hingga sekarang pun, kesibukanku, semakin ku kerjakan, semakin menambah beban. Semakin tak terselesaikan, dan semakin membuatku lupa akan keadaan.
Nyatanya proses panjang menuju bahagia itu tak pernah sampai.
Orang sekitar yang kian ku hargai, tetap tak juga menganggap aku benar ada.
Dan piciknya aku, ketika sudah terdesak tak bisa bergerak, aku datang mengadu padamu.
Sedangkan kau tak pernah meski sekedar protes dan menyela ucapan dan celotehan panjangku.
Yang kau lakukan hanya mendengarkan, dan setia hadirkan beribu penenang.
Disinilah letak salahku.
Kemana saja aku selama ini ?
Bukankah sesuatu tentang "memberi dan menerima" sudah jelas keberadaannya ?
Kenapa aku masih saja mengadu tanpa mau menjadi tempatmu mengadu ?
Semua baru nampak jelas dan terus membuatku sesal, saat kau telah sakit tak lagi hadir tuk pasang bahu untuk tempat tangisku seperti dulu.
Kau sudah terlanjur sakit sebelum aku sempat bertanya keadaanmu.
Apa lagi yang lebih buruk dari ini ?
Meski kata maaf telah melemahkan lisanku pun, kau tak akan kunjung menjadi sembuh.
Aku hanya menambah beban, dengan rasa bersalah yang sudah ku rencanakan tak akan ada habisnya ini.
Mungkin sekali lagi, boleh lah aku mengucapkan kata maaf sebelum usiamu benar-benar berakhir.
Apapun itu, aku minta maaf.
Ku harap, kau mau menunggu perbaikan kecil untuk tebus segala salah yang pernah aku ulas dengan jelas.
Selamat malam, selamat beristirahat. Semestaku.
Sejak dulu yang aku lakukan hanya proses panjang untuk membahagiakan diriku.
Sejak dulu aku hanya berjalan dan mengoreksi kala saja diriku tengah tak baik di pandang orang sekitarku.
Sejak dulu dan hingga sekarang pun, kesibukanku, semakin ku kerjakan, semakin menambah beban. Semakin tak terselesaikan, dan semakin membuatku lupa akan keadaan.
Nyatanya proses panjang menuju bahagia itu tak pernah sampai.
Orang sekitar yang kian ku hargai, tetap tak juga menganggap aku benar ada.
Dan piciknya aku, ketika sudah terdesak tak bisa bergerak, aku datang mengadu padamu.
Sedangkan kau tak pernah meski sekedar protes dan menyela ucapan dan celotehan panjangku.
Yang kau lakukan hanya mendengarkan, dan setia hadirkan beribu penenang.
Disinilah letak salahku.
Kemana saja aku selama ini ?
Bukankah sesuatu tentang "memberi dan menerima" sudah jelas keberadaannya ?
Kenapa aku masih saja mengadu tanpa mau menjadi tempatmu mengadu ?
Semua baru nampak jelas dan terus membuatku sesal, saat kau telah sakit tak lagi hadir tuk pasang bahu untuk tempat tangisku seperti dulu.
Kau sudah terlanjur sakit sebelum aku sempat bertanya keadaanmu.
Apa lagi yang lebih buruk dari ini ?
Meski kata maaf telah melemahkan lisanku pun, kau tak akan kunjung menjadi sembuh.
Aku hanya menambah beban, dengan rasa bersalah yang sudah ku rencanakan tak akan ada habisnya ini.
Mungkin sekali lagi, boleh lah aku mengucapkan kata maaf sebelum usiamu benar-benar berakhir.
Apapun itu, aku minta maaf.
Ku harap, kau mau menunggu perbaikan kecil untuk tebus segala salah yang pernah aku ulas dengan jelas.
Selamat malam, selamat beristirahat. Semestaku.
Komentar
Posting Komentar