Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020

Mari berhenti bertanya

Yang Kusuka dari hujan bukan karena kenangan yang disimpannya, tapi karena bising yang diciptakannya. Bising hujan yang terus membuatku tuli dan tak bisa lagi mendengarkan suara benakku sendiri. Mereka terlalu bising hingga mengalihkan seluruh perhatianku. Selain itu, orang lain juga tak akan bisa mendengarkannya walau mereka sangat ingin sekalipun. Sebab aku akhirnya diam tanpa berbuat apa-apa. Membiarkan bising hujan mengambil alih bicara dengan semesta. Anggap saja, ku pinjamkan semesta yang selalu mendengarkan aku. Mungkin hujan juga punya hal yang ingin disampaikan. Jadi rasanya, aku lebih baik diam. Sebenarnya aku tidak pernah paham, apa aku benar-benar tak mendengarnya, atau aku saja yang memang selalu berpura-pura tak mendengarnya ? Bedanya hanya tipis, antara sengaja atau tidak sengaja. Semua sama-sama alibi yang ku ciptakan agar mereka berhenti bertanya "kenapa". Agar aku, tak perlu repot menjawabnya dengan banyak "karena". Sebab semua memang melulu tentan...

Ulah siapa saja, akan tetap beresiko.

Kenapa pikiranku bertindak sejauh ini ? Apa yang membuatnya berpikir dengan cara melelahkan seperti ini ? Apa karena aku terlalu merindukan, atau karena dampak dari semua kebencian ? Semuanya jadi lebih sulit di jalani bahkan jika itu karena ulah pikirkan ku sendiri. Kadang aku terlalu banyak berpikir. Entah berpikir hal yang berat, atau bahkan pikiran paling sederhana yang tak semua orang punya waktu untuk memikirkannya. Kadang juga, aku berpikir apakah orang lain juga pernah memikirkan hal yang sama denganku ? Apakah dari mereka juga berpikir untuk tetap diam seperti ku ? Apakah orang lain juga merasa lelah dengan pikirannya sendiri ? Apakah mereka juga akan baik-baik saja meskipun harus diam tak bisa berujar ? Wah, merepotkan sekali aku ini.

Sulit Mengerling

Topik mungkin sudah bisa sedikit teralih Membicarakan objek lain yang kerap kali tersisih Tentang sosok yang tak bisa dijadikan jalan alternatif kembali, untuk tempat henti dari langkah penuh tatih Namun rasanya tetap tak apa untuk jadikannya hiburan mata dikala letih  Jika bicarakan ini, mungkin akan punya banyak makna ambigu dimana mana Senang, sedih, ragu, takut, mengacaukan kepastian dari rasa yang sebenarnya Bahkan kadang, cinta ikut andil didalamnya Semakin memperumit saja Tak perlu diharapkan kedatangannya, ia akan muncul sembari melempar tatap yang menyebalkan Hal yang selalu ku takutkan jika yang lain ikut melihat, tidak akan ada lagi yang bisa mengelingkan pandang Aku terus menjadi egois Karena ingin menikmati semua itu sendirian Sungguh lupa, kalau dia tetap mutlak kepunyaan Tuhan Nyatanya topik bicara yang baru dimulai ini Sudah harus berakhir dengan "Berhenti menceritakan harapan. Ingat, masa depanmu sudah berantakan !" Sial kan ?

Gila

Terkadang ku pikir, apakah aku salah menjatuh cintakan hatiku saat itu. Tapi daripada memikirkan nya, jatuh hati memang bukan hal yang perlu disalahkan. Siapapun terutama makhluk bisa apa, jika tuhan yg menjadi Maha menggerakkan hati telah berkehendak demikian ? Yang aneh jika penyesalan hambanya berlarut dalam lupa kalau semua ada asal muasalnya, ada sebab musabab nya. Bukan serta merta. Tapi memang sudah terlanjur ada tanpa diminta. Kalau rasa itu boleh disalahkan, mungkin semua yg bertepuk sebelah hati akan meronta satu persatu datang dengan keluhan hatinya. Toh, mau menyalahkan siapa ? kepada Tuhan ? Sangat tidak masuk akal. Bisa-bisa hak jatuh cinta dicabut seketika. Mau seberapa hampa lagi jika jatuh cinta dicabut ? Cinta lenyap, hamba mengeluh lagi. Teruskan, teruskan. Yang ada sejarah manusia millenial akan penuh dengan keluhan omong kosong. (Ya, andai saja aku boleh berpikir tentang semua hal itu. Jika itu terjadi, mungkin aku sudah dianggap benar-benar gila. Aku boleh gun...

Ssstt !

Kalau kamu mau cari aku, pergilah ke ladang sajak ceritaku semalam. Sisa² nya masih membumbung disana. Mungkin aku tengah sibuk membereskan semua kekacauan yang ada. Takut jikalau ada saja yg menggusur paksa sajak² ku untuk pergi, karena siang mulai menggantikan pagi. Aku tidak pernah kewalahan dengan sajak cerita yang aku geluti semalaman. Mereka sangat baik menemani waktu malam ku dengan sekedar berceloteh tentang mirisnya hubungan bulan dan bintang. Mereka juga sempat singgung topik tentang kamu. Tapi ku hentikan sebelum semakin menguarkan rasa kesalku. Kenapa aku kesal ? Ya karena kamu tidak hadir bersama kami malam tadi. Jadi aku biarkan mereka hanya fokus bicara tentang aku, sajak² mereka, serta bulan bintang yg ada. Kamu tidak perlu dilibatkan lagi. Tapi aku juga tak melarang. Singgahlah jika kamu penasaran gurauan apa yang terlempar antara aku dengan sajak cerita. Ya, kalau kamu mau singgah. Kalau tidak mau, tidak apa-apa. Asal jangan terus bertanya sedang apa, dan dimana...

Meracau salah akan Semesta

Maafkan aku semesta. Sejak dulu yang aku lakukan hanya proses panjang untuk membahagiakan diriku. Sejak dulu aku hanya berjalan dan mengoreksi kala saja diriku tengah tak baik di pandang orang sekitarku. Sejak dulu dan hingga sekarang pun, kesibukanku, semakin ku kerjakan, semakin menambah beban. Semakin tak terselesaikan, dan semakin membuatku lupa akan keadaan. Nyatanya proses panjang menuju bahagia itu tak pernah sampai. Orang sekitar yang kian ku hargai, tetap tak juga menganggap aku benar ada. Dan piciknya aku, ketika sudah terdesak tak bisa bergerak, aku datang mengadu padamu. Sedangkan kau tak pernah meski sekedar protes dan menyela ucapan dan celotehan panjangku. Yang kau lakukan hanya mendengarkan, dan setia hadirkan beribu penenang. Disinilah letak salahku. Kemana saja aku selama ini ? Bukankah sesuatu tentang "memberi dan menerima" sudah jelas keberadaannya ? Kenapa aku masih saja mengadu tanpa mau menjadi tempatmu mengadu ? Semua baru nampak jela...

Selamat malam :)

Fajar memang sering bercanda. Kerap datang bersamaan dengan kantuk yang mulai menggelitik mata. Herannya, semua terasa baik² saja. Meskipun malam nyaman terus terenggut oleh sebuah insomnia akut yang serasa jadi teman bicara saat fajar meninggi hendak acungkan dirinya kembali. Intinya satu, alam mimpi kini jadi tempat indah yang semakin jadi dambaan hati. Terus tak teraih, lagi dan lagi.

Bodoh

Bukan perihal siapa yang lebih lama menemani, tapi tentang bagaimana kita menyikapinya dengan dingin hati. Bukan perihal sejauh mana diri ini tersakiti, tapi mungkin ini hanya tentang bagaimana dia mau membuat suasana baik itu kembali. Kalau pun disuruh bertahan, pastinya aku akan bilang "tidak" secara spontan. Karena bertahan pun bukan satu-satunya pilihan, ada opsi lain untuk beranjak meninggalkan. Yah, intinya tak lagi ingin bodoh sendirian. Kenapa harus paksakan semua yang tak bisa dilakukan ? Bodoh ? Baiklah. Aku tak akan menyangkal. Mungkin sempat bisa dikatakan seperti itu. Detik itu, aku yang terus merasa candu meski faktanya kamu diciptakan Tuhan hanya untuk singgah bukan menetap setia mendengarkan cerita-ceritaku. Tak menetap pun tak lagi menjadi masalah. Aku juga sempat resah, namun untungnya ada hal menyenangkan lain yang bisa sekedar menghilangkan gelisah. Topiknya memang hanya ini-ini saja. Tak ada yang istimewa. Nyatanya kamu tetap tak juga me...