Sapardi Djoko Damono buat kenangan

"Kamu pesajak ya?"
Sebuah notifikasi komentar tiba-tiba sedikit mengejutkan Rere yang tengah memandang cup americano nya yang hampir habis.
Karena dia bukan tipe orang yang suka menunggu, maka ia tidak ingin membuat orang lain menunggu dengan langsung membaca dan membalas komentar seseorang itu.
'Bukan, aku hanya suka membacanya saja' begitu jawabnya.
Hal yang pasti ia lakukan adalah mampir ke beranda si pengomentar, sekedar ingin tahu siapa yang tumben-tumben nya menanyakan hal itu padanya.
Meskipun ia berharap lebih, tapi ternyata di sana tidak banyak terpampang foto wajah si pemilik akun.
Hanya ada satu yang memperlihatkan seorang lelaki berhoodie big size, yang bahkan foto itu pun di potret dari arah samping. Hanya terlihat ujung hidung mancungnya saja.
Kenapa dia bisa tahu kalau itu laki-laki? Ya sebab menurutnya, nama akun sesingkat Aldo_ar bukan salah satu list nama perempuan pada umumnya.
Tak lama, ternyata lelaki itu kembali meninggalkan balasan.
"Sepertinya kamu nggak terlihat seperti hanya seorang pembaca saja. Ah, aku harap bisa bertemu dan berkenalan secara langsung."
Rere yang sejujurnya sangat kesulitan mengendalikan rautnya, tetap berusaha datar, meski hatinya sedikit senang saat ada tanda-tanda akan dapat teman baru.
Selama ini belum pernah sekalipun, ada orang yang meninggalkan komentar yang sebegitu membekasnya dalam ingat Rere. Jadi saking semangatnya, Rere langsung mengiyakan untuk bertemu juga.
'Apa sekarang kita berteman?' Balas Rere setelah persetujuan untuk bertemu itu.
Hanya butuh beberapa menit saja, balasan yang ia tunggu pun datang.
"Aku harap setelah bertemu nanti, kita bisa lebih baik dari seorang teman. Karena kupikir kita akan cocok."
Astaga, perasaan senang yang bukan main tidak lagi bisa digambarkan hanya dengan ekspresi wajah saja. Bahkan seisi cafe yang Rere tempati pun, ikut merasakan getaran perasaan senangnya meski lebih kepada keterkejutan. Sebab tiba-tiba Rere melompat kegirangan dengan suara nyaring, mirip seseorang yang habis menonton pertandingan bola dan tim yang dijagokan mencetak gol.
Setelah perasaan senangnya mulai terkontrol, Rere pun segera mengemas buku dan laptop yang sejak 2 jam lalu menemaninya berkutat dengan tugas kuliah. Kemudian, ia pun segera bergegas pulang.
Esok hari, Rere benar-benar mempersiapkan banyak hal hanya untuk bertemu dengan orang asing yang cuma dikenalnya melalui via Instagram itu. Rasanya ia begitu tidak ingin meninggalkan kesan buruk terhadapnya nanti.
Baru, setelah merasa cukup puas, akhirnya ia mau beranjak pergi dari depan cermin kamarnya, menuju tempat janji temu dengan calon teman barunya itu.
Sebelum masuk, ada sedikit keraguan di dalam hati Rere, tapi tetap berusaha ia kesampingkan. Ia pun segera membuka kenop pintu sebuah cafe klasik tak jauh dari alun-alun kota tinggalnya itu.
"Re! Sini!" Tiba-tiba seseorang memangil namanya dengan riang.
Rere hanya tersenyum kecil, karena mungkin lelaki itu adalah si pemilik akun bernama Aldo_ar. Dia tidak banyak bertanya dan hanya ikut duduk berseberangan dengan lelaki yang ternyata lebih tampan dari imajinasi otaknya kemarin.
"Mau pesan apa?" Tanyanya.
'Ice Americano satu. Terimakasih.' jawab Rere masih sangat formal dan tentunya dengan nada bergetar khas orang gugup.
"Wah, ternyata kamu suka Ice Americano juga ya? Kebetulan yang menyenangkan." Setelah bicara begitu, rasanya terlihat sangat tidak bertanggung jawab. Karena lelaki itu berani langsung beranjak pergi, setelah meninggalkan debaran yang cukup hebat untuk jantung sehat Rere.
Memang sangat aneh, kenapa ia bisa berdebar hanya karena mendengar kata-kata sesederhana itu? Bukannya bait-bait yang ia baca dalam buku 1000 kali lebih manis dari kalimat lelaki itu? Bahkan wajah tampannya pun belum cukup ber efek untuk membuatnya ingin punya hubungan lebih dari teman. Tapi tidak apa-apa lah, mungkin ia hanya gugup saja, begitulah usahanya untuk berpikir positif.
"Oke, sambil nunggu kopi nya, kita ngobrol yuk." Sepertinya dia orang yang menyenangkan, Rere mulai mengambil satu kesimpulan awal.
'Oke. Tapi aku nggak pinter cari topik. Gapapa?'
Lelaki itu malah menyimpulkan senyum manis lengkap dengan dimple di kedua pipi nya. Menambah nilai rupawan wajah lelaki jangkung itu naik begitu drastis.
"Cukup bicara saja tentang sajak, aku yakin, kamu nggak akan bosen kalo bicarain tentang itu. Iya kan?"
Akhirnya wajah tegang Rere seakan diberi pelumas untuk ikut menarik bibirnya membentuk senyuman.
'Oh ya, sebelumnya kenalin, aku Rere. Dan kamu, Aldo bukan?' lanjutnya kembali ragu.
"Iya, aku Aldo. Tenang aja, aku bukan tipe orang yang suka nyamarin nama sendiri kok. Dikasih nama bagus, syukur banget malah. Hehe"
Dia pandai mengendalikan suasana, Rere kembali mengambil kesimpulan kedua.
'Hm.. iya-iya.' 
Stuck. 
Sungguh, Rere memang tidak berbohong soal ia yang tidak bisa mencairkan suasana. Tapi untungnya Dewi keberuntungan sedang berpihak padanya. Jadi setelah ia memberikan jawaban, kopi pesanan mereka tiba di atas meja.
Aldo pun langsung menyodorkan ice americano yang jelas Rere tunggu sejak tadi.
Yah, jika sejak tadi sudah ada americano di genggaman nya, mungkin saja percakapannya dengan Aldo jadi sedikit lebih menyenangkan.
"Seneng banget bisa ketemu sama kamu. Karena kalo boleh jujur, sajak yang sering kamu unggah di feed Instagram kamu itu, adalah hal yang paling aku tunggu saat buka beranda utama. Setelah kamu post satu feed, meskipun cuma 4 bait, tapi aku bisa ikut ngerasain perasaan yang pengen kamu sampein." Wajah antusias Aldo benar-benar satu penampakan yang sayang banget untuk dilewatkan.
'Oh ya? Ternyata ada juga orang yang nunggu sajak-sajak itu. Sebenernya, aku cuma suka dan gak berharap banyak supaya orang lain juga ikut suka. Tapi, kalo boleh tahu, kamu paling suka sajak yang mana?' rona impresif di wajah Rere betul-betul tidak bisa disembunyikan lagi. Tapi ia biarkan itu mengalir apa adanya. Ia ingin, jaga image nya segera berakhir dalam waktu dekat.
"Hm.. yang paling aku suka sih, sajak dengan judul *aku ingin* yang kalo nggak salah, kamu unggah 2 tahun yang lalu."
Seketika mata Rere berubah membelalak. 
Hei, siapa yang tidak terkejut? 2 tahun lalu ini, bukan waktu yang sebentar. Meskipun judul yang Aldo sebutkan barusan tidak pernah ia lupakan, tapi tetap saja, untuk orang lain yang bukan bagian dari lingkungannya, sangat mustahil untuk mengingat hal itu. Bukan ingat tentang judul sajaknya, tapi lebih kepada waktu yang bahkan Rere sendiri sudah agak lupa, apakah ia mengunggah sajak itu benar 2 tahun lalu.
'Ah, itu puisi dari Sapardi Djoko Damono.'
"Iya aku tahu."
'Berarti kamu pernah baca dong?'
"Iya, bahkan sangat sering baca part itu, makanya aku seneng banget waktu tau kamu ngunggah bagian itu juga."
'Suka kenapa?'
"Kamu Bener-bener gatau alasannya, atau cuma mancing biar aku yang bilang?"
Ah sial, dia main teka-teki dengan orang yang salah, protes Rere tetap dalam hatinya.
'Yaudah, minum aja dulu, baru aku lanjutin.'
Rere semakin tidak mengerti, tapi anehnya tidak banyak memprotes perintah Aldo.
Setelah Rere meminum banyak dari gelas americano mediumnya, Aldo kembali melanjutkan kalimatnya yang sengaja ia skip untuk memberikan kesempatan pada Rere untuk minum.
"Aku suka sajak, tapi.." kalimat Aldo lagi-lagi membuat rasa penasaran Rere sukses terpancing.
'Aku suka sajak, tapi..' ulang Rere sembari menatap lekat menunggu jawaban Aldo. Aldo juga ikut menatap manik mata Rere, namun dengan tatapan yang lebih dalam. Bahkan rasanya langsung tidak bisa Rere artikan.
"Aku suka sajak, tapi aku lebih suka kamu, boleh kan?"

Komentar